Aku terus menyusuri rak-rak buku, sesekali aku mengambil beberapa buku lalu dibuka beberapa lembar dari buku itu. Namun setelah dibuka-buka tidak semua buku yang aku ambil sesuai dengan yang diharapkan. Isinya tak semenarik dengan judul yang terbaca di cover buku. Aku terus mencari buku yang pantas untuk menemaniku menunggu seseorang.
Ketika Menunggu adalah Tanda Cinta
Aku terus menyusuri rak-rak buku, sesekali aku mengambil beberapa buku lalu dibuka beberapa lembar dari buku itu. Namun setelah dibuka-buka tidak semua buku yang aku ambil sesuai dengan yang diharapkan. Isinya tak semenarik dengan judul yang terbaca di cover buku. Aku terus mencari buku yang pantas untuk menemaniku menunggu seseorang.
Look at to Your Umbrella (3)
Payung biru milik Mas Nanda selalu kuselipkan ke
dalam tas. Aku berpikir jika suatu saat bertemu secara kebetulan aku bisa
langsung mengembalikannya.
“Hei, kenapa lagi sih kamu. Bengong di siang bolong
begini.”
Kata-kata Andin membuyarkan lamunanku yang melayang
entah ke mana.
“Aku perhatiin, akhir-akhir ini kamu rajin bawa
payung. Padahal udah tiga hari ini nggak hujan” kata Andin sambil memandag payung
biru yang ada di dalam tasku yang terbuka.
“Buat jaga-jaga aja. Lima hari yang lalu kan
tiba-tiba hujan lebat, padahal siangnya nggak ada tanda-tanda mau hujan.”
Jelasku tanpa menyinggung tentang Mas Nanda.
“Oh ya, jangan lupa nanti sore ya. Aku pamit dulu”
“Oke, hati-hati”
Seperti yang Andin pesan, sore ini aku harus
menyetor uang apotek ke bank Mandiri. Jaraknya tidak jauh dari apotek, jadi
kuputuskan untuk jalan kaki saja. Apalagi sore begini panasnya sudah tidak
terlalu terik.
Belum sempat membuka pintu, seorang satpam dengan
tulusnya membukakan pintu untukku seperti pengunjung lainnya. Aku langsung mengisi
formulir penyetoran. Untungnya antrean tidak panjang. Hanya ada tiga orang yang
berbaris ke belakang, dan aku berada di urutan empat.
Kulihat hanya dua orang teller yang melayani, padahal oultelnya ada tiga. Outlet tengah
kosong, dan terpampang nama teller “Nanda”.
Tanda itu cukup memberiku informasi tentang Mas Nanda. Tapi sebenarnya belum
cukup. Yang kubutuhkan sekarang adalah di mana keberadaan Mas Nanda sekarang.
Apalagi outlet yang harusnya dia singgahi kosong.
“Silakan Mbak.”
Seorang teller
paling pojok mempersilakan costumer
selanjutnya untuk segera maju ke outlet. Aku pun langsung berjalan ke outlet
yang sudah tidak ada costumernya. Aku
langsung mengajukan formulir penyetoran, buku rekening, dan uang setoran milik
apotek. Bukannya memperhatikan kinerja teller,
tapi aku malah mengamati outlet sebelahnya yang tampak kosong dan sepi.
“Terimakasih dan selamat sore.” Kata teller yang melayaniku.
Selesai melakukan transaksi aku langsung keluar
melalui pintu yang sudah dibukakan oleh satpam. Dan kata-kata yang sama pun
diucapkan oleh satpam. “Terimakasih dan selamat sore.”
Saat tiba di perempatan jalan, terlihat sekerumunan
orang mengelilingi sesuatu di tengahnya. Aku pun penasaran dan mencoba
mendekati kerumunan itu. Orang-orang saling bercerita tetang alur kejadian. Salah
satu orang keluar dari kerumunan itu dan dia mengerutkan dahi sambil menutupi
hidung dan mulutnya.
“Kasihan ya dia” kata seseorang dari kerumunan itu.
Beberapa orang juga mengerumuni sepeda motor yang
sudah penyok dan kaca spionnya pecah. Jelas sekali ini adalah kecelakaan. Rasa
penasaran pun menggerakkan kakiku untuk menyelundup ke kerumunan orang. Dan
berhasil. Kulihat seorang lelaki berkemeja putih dengan dasi panjang warna
merah marun, serta sepatu hitam mengkilat. Sayang kemeja putihnya ternodai oleh
darah yang mengalir dari hidungnya. Kepalanya juga mengeluarkan darah kental
dan tercecer di jalanan. Lelaki itu. Mas Nanda terkapar tak berdaya. Dia
seperti orang yang sudah tidak bernyawa, dadanya tidak nampak berkembang
kempis.
Melihat orang yang kucari selama ini terkapar
seperti itu berhasil membuatku lemas. Rasanya aku ingin ikut terkapar seperti
Mas Nanda. Aku menjadi pusing. Suara sirine ambulan pun membuatku tambah
pusing. Tiba-tiba beberapa polisi mengusir kerumunan untuk menjaga jarak dengan
korban. Tanpa pandang bulu, polisi pun menyingkirkanku. Dan aku terjatuh di
jalan aspal.
Aku lihat tubuh Mas Nanda diangkut ke dalam ambulan.
Badanku langsung bangkit dan segera mengikuti beberapa orang yang memasukan
tubuh Mas Nanda ke dalam Ambulan. Aku mencoba untuk masuk ke ambulan, tapi
seorang polisi mencegahku.
“Maaf, Anda siapa?” tanya Pak Polisi dengan bahasa
formal.
“Pak ijinkan aku menemaninya. Aku mengenalnya. Dia
Mas Nanda. Aku sering satu bis dengannya. Terakhir bertemu dia membayar tarif
angutanku dan dia meminjamiku payung saat hujan. Dan ini payungnya. Aku ingin
mengembalikan padanya.” Jelasku panjang lebar sambil menunjukkan payung milik
Mas Nanda.
Aku memohon-mohon pada Pak Polisi sambil menangis.
Aku pun berusaha meyakinkan bahwa aku pantas menemaninya.
“Baiklah kalau begitu, ikutlah dengan kami. Dan
tolong hubungi keluarganya” pinta Pak Polisi.
Dengan keadaan Mas Nanda yang sudah kritis, pihak
rumah sakit langsung memasukannya ke ruang gawat darurat. Aku hanya bisa
menunggu di luar. Menangis dan menyesal tidak berkomunikasi atau pun berteman dengannya
sejak dulu. Dan sekarang aku bingung harus menghubungi siapa. Aku tidak punya
kontak keluarganya. Malah aku sempat terpikir wanita anggun itu.
Tiba-tiba dua orang polisi mendatangiku dan
mengabarkan bahwa pihak keluarga Mas Nanda sudah diberi tahu. Polisi pun
menyerahkan HP Samsung GT-C5180 kepadaku. Aku disuruh menunggu kedatangan
keluarga Mas Nanda.
Sambil menunggu pihak keluarga Mas Nanda, aku terus
memandangi wallpaper di HPnya. Wallpaper ini bagaikan burung merpati
yang membawa surat yang berisi kabar. Jelas sekali mereka ada hubungan. Foto
Mas Nanda dan wanita anggun itu sangat serasi. Pastilah akan mengundang rasa
iri bagi setiap orang yang melihatnya. Pesan satu jam yang lalu pun mengundang
rasa penasaranku. Aku hanya perlu memastikan bahwa pesan ini dari wanita anggun
itu.
Tanpa sengaja jari ibuku menekan tombol open. Dan terbukalah pesan yang seharusnya
dibuka oleh Mas Nanda.
Mas, aku udah
pulang di rumah ibu. Cepat pulang ya, aku kangen.
From: My Diana
13 Mei 2014
15:21
Isi pesan itu membuatku terharu. Mas Nanda berkendara
dalam keadaan pulang ke rumah dan ingin menemui kekasihnya. Dia akan membasuh
rasa rindu dengan keluarga. Tapi apa yang terjadi? Mengapa harus terjadi pada
orang sebaik Mas Nanda?
Seorang wanita dan pria paruh baya berjalan
terburu-buru ke arahku. Di belakangnya diikuti oleh kekasihnya. Mbak Diana
maksudku. Aku segera mengusap air mata yang mengalir di pipiku dan segera
berdiri untuk menyambut bapak dan ibu Mas Nanda.
“Raiya, kenapa Nanda harus mengalami kejadian ini”
keluh Bu Surti sambil memegangi kedua pundakku.
“Mas Nanda sedang ditangani dokter di dalam. Optimis
saja Bu, Mas Nanda tidak apa-apa” kataku berusaha menenangkan seorang ibu yang
sedang khawatir dengan keadaan putra kesayangannya.
“Amiin. Trimakasih ya sudah menemani Nanda.”
“Oh ya, ini HPnya Mas Nanda. Tadi polisi yang ngasih
ke aku.” Kataku sambil menyodorkan HP. “Oh ya, karena kalian sudah di sini,
Raiya pamit pulang dulu ya Bu, Pak, dan Mbak Diana” lanjutku untuk pamit
pulang. Aku merasa tugasku sudah cukup sampai di sini.
Sebelum aku beranjak pergi dari rumah sakit, aku
memanggil Mbak Diana dari jarak lima langkah. Dia pun mencoba mendekatiku.
“Mbak Diana ingat aku kan? Kita pernah perjumpa dua
kali, dan ini yang ketiga.” Kataku datar.
“Aku ingat, di depan rumah Mas Nanda dan di apotek
kan?” katanya dengan nada tenang.
“Aku mau balikin payung Mas Nanda sama uang tiga
ribu. Terakhir bertemu di bis, dia meminjami dua barang itu. Tolong sampaikan
terimakasihku” jelas dan pintaku pada Mbak Diana.
“Tentu saja. Dan aku juga sangat berterima kasih
sama Mbak Raiya” tuturnya sambil memasang senyum tipis di wajahnya.
Rasanya lega sekali sudah bisa berhadapan dengan
Mbak Diana tanpa ada rasa curiga dan tanpa gemetaran. Dia wanita yang lemah
lembut dan pantas mendampingi orang baik seperti Mas Nanda. Meskipun Mas Nanda
tidak tahu kalau aku sempat menemaninya, setidaknya dia tahu bahwa payungnya
sudah kembali.
(Selesai)
Look at to Your Umbrella (2)
Hari ini aku berniat mengembalikan payung dan uang
sejumlah tiga ribu untuk mengganti membayar tarif bis. Aku sengaja berangkat
seperti biasanya di mana aku bisa bertemu Mas Nanda lagi. Nampaknya masih
banyak kursi kosong. Bis pun masih menunggu penumpang lain untuk mengisi kursi
yang masih kosong. Lima menit kemudian seorang penumpang menduduki kursi di
depanku. Dan tak lama kemudian datang dua penumpang sekaligus yang nampaknya
sangat aku kenal. Mereka pemilik warung kecil di mana aku biasa membeli mie
instant. Dan seperti biasa, aku selalu terlambat menyapanya, jadi mereka yang
menyapaku terlebih dulu.
Sepuluh menit telah berlalu. Aku semakin pesimis
tidak bisa bersamanya lagi pagi ini. Harapanku pulang nanti bisa bertemu. Namun
begitu aku naik bis jam aku pulang, Mas Nanda tidak ada di bis itu. Mungkin
memang hari ini sudah ditakdirkan untuk tidak bertemu. Aku semakin berharap
saja besok pagi bisa bertemu dengannya.
Apa aku harus
berkunjung ke rumahnya?
Aku berhenti sejenak di pertigaan gang kecil di mana
Mas Nanda berbelok ke arah sana. Tanpa berpikir lebih lama lagi. Kakiku
memutuskan untuk berjalan menuju rumah Mas Nanda. Sampailah aku di depan rumah
bercat kuning muda. Halaman rumah itu ditumbuhi rumput hijau secara rapi. Nampak
tidak ada orang yang akan menyambutku untuk masuk. Rumahnya terlihat sepi.
Mungkin lain
kali saja.
Aku pun mengurungkan niat untuk berkunjung ke rumah
Mas Nanda. Aku berbelok untuk pulang ke rumah. Belum sempat aku melangkankan
kaki, terlihat seorang wanita berjalan ke arahku. Parasnya sangat cantik.
Postur tubuhnya sangat proposional seperti model. Gaya berpakainnya juga rapi.
Blus, celana hitam, dan sepatu fantofel berhak membuat penampilannya seperti
pegawai kantoran.
Aku sangat terpesona dengan keanggunannya sampai aku
tidak sadar kalau wanita itu sudah berlalu. Saat aku menoleh ke belakang,
wanita itu sudah berada di depan pintu rumah Mas Nanda. Pintu pun terbuka, dan
wanita paruh baya tampak ramah menyambut wanita anggun itu. Ternyata rumah itu tidak
sesepi yang aku kira. Ibu Mas Nanda ada di sana, dan entah siapa lagi yang ada
di dalam.
Payung warna biru laut itu terus kupandangi. Otak
pun terus berpikir tentang keberadaan Mas Nanda. Dan tentang wanita yang tadi,
aku pun terus memikirkannya.
Apa hubungan
mereka? Mungkinkah hanya saudara jauh?
Mataku semakin tak kuasa untuk terus terjaga. Aku pun
terlelap. Payung Mas Nanda terus menjadi saksi kegalauanku.
***
Tiga hari ke depan masih sama saja. Berangkat dengan
bis tanpa kehadiran Mas Nanda. Wajahku tampak kecewa dan murung. Mungkin karena
aku terlalu berharap.
“Pagi-pagi kok wajah ditekuk begitu” goda Andin,
salah satu teman kerja di apotek ini.
“Rasanya kecewa aja, berharap bisa satu bis dengan
seseorang tapi sudah empat hari ini dia nggak muncul” keluhku sambil menghela
napas panjang.
“Oh, Si Mas Nanda itu. Emang kenapa sih sekarang kamu
peduli banget sama dia. Jadilah Raiya yang dulu, nggak pernah mikirin Mas Nanda”
kata Andi mencoba memberi nasihat.
“Mungkin kamu benar, lagian aku nggak pernah
komunikasi sama dia”
“Nah gitu dong. Tuh ada pengunjung cewek, layanin
buruan dari pada murung mulu” perintah Andin sambil menunjuk ke arah pengunjung
dengan wajah yang tirus.
Aku segera menuju pengunjung itu. Dan.. Ya Tuhan. Wanita ini lagi…
Jantungku semakin berdegup kencang ketika harus
berhadapan dengannya. Saat ku amati dengan jarak dekat ternyata dia memang cantik.
Bedanya, sekarang dia mengenakan kacamata ber-frame penuh.
“Ini mbak resep dokternya” katanya dengan suara
lembut. Kertas kecil dengan coretan tinta pun disodorkan dengan tangan
kanannya. Sikapnya pun tampak tenang.
Aku mengambil kertas itu sambil masih tetap memandang
wajahnya. Justru aku agak gemetaran sehingga kertas yang kuambil tampak
bergerak. Aku membaca resep itu dengan teliti. Lalu segera mencari obat yang
dimaksud oleh tulisan dokter. Obat tetes mata dan pil vitamin mata.
Pantas saja
pake kacamata. Ada apa dengan matanya?
“Dengan Mbak Diana ya…” tanyaku untuk memastikan
nama yang ada di resep dokter itu benar. Kulihat dia hanya mengangguk pelan dan
anggun.
Tak kusangka aku masih gemetaran ketika harus
menulis faktur pembelian. Tulisanku jadi tidak seperti biasanya. Berantakan dan
coretannya seperti cakar ayam.
Setelah selesai aku segera mengemas obat beserta
fakturnya. Lalu menyodorkannya ke wanita itu.
“Delapan puluh ribu” kataku dengan nada dingin.
Saat dia mengambil beberapa lembar uang dari
dompetnya kulihat ada foto dua orang sedang bersama. Tampat itu adalah foto
dirinya dengan seorang pria, tapi entah siapa aku tidak bisa melihat dengan
jelas.
Dia memberiku uang pas sehingga tidak perlu berlama-lama
lagi untuk saling berhadapan. Setelah kuterima uang pembayaran, wanita itu
langsung pergi tanpa mengucapkan kata-kata lagi. Baguslah kalo begitu.
Tak lama setelah wanita itu tak terlihat lagi,
badanku kembali normal. Tidak gemetaran lagi. Tapi wanita itu berhasil
membuatku berpikir keras tentang hubungan apa yang dia jalin dengan Mas Nanda.
Langganan:
Postingan (Atom)
Cari Blog Ini
Wellcome to my blog....
Tulisan dalam blog ini adalah hasil pemikiran, renungan, imajinasi, dan filterisasi di bawah otak sadar saya. Saya sadar makanya saya dapat menulis. Kalo tidak sadar, maka saya tidak dapat menulis. Karena "scribo, ergo sum". Well, happy reading,guys... ^_^
About Me
- lilinzhu.blogspot.com
Ingkang Sowan
Time
Popular Posts
-
TEMA Tema utama novel “Nayla” karya Djenar Maesa Ayu ini adalah pemberontakan wanita terhadap tekanan batinnya. Tema ini menggambarka...
-
Salah satu selebgram cantik yang terkenal dengan editan fotonya yang WOW yaitu Nabila Zirus. Selebgram hijab yang mempunyai gaya kekinian da...
-
Bagi penggemar Novel Supernova karya Dee Lestari pasti tahu kalau di setiap awal cerita terdapat syair pembuka. Bisa dibilang sih seperti pr...
-
Novel Demian masih karya Hermann Hesse terbit tahun 1919 dan masih kategori novel filosofi, yaitu tentang cerita masa muda Emil Sinclair da...
-
Sinopsis: “Menunaikan ikrar mereka untuk berkarya bersama, pasangan Dimas dan Reuben mulai menulis roman yang diberi judul Kesatria,...
-
Satu lagi drama korea yang lagi booming di kalangan pecinta KPop. ‘Descendants of the Sun’. Drama yang baru selesai tayang 22 April 2016...
-
During dry season, it seems like no a day without feeling hot and hot. Begin April to this month, sky under Semarang City always...
-
Hello, Girls… Kamu wanita, kan? Kehidupan seorang wanita ketika beranjak dewasa akan lebih rumit ketimbang saat masih remaja, apalagi ana...
-
Bagi orang awam yang belum mengetahui Jurusan Ilmu Perpustakaan, mungkin banyak yang bertanya tentang jurusan ini. Apa saja pertanyaan ...
-
H ari ini, detik ini. Aku masih tidak bisa berpaling dari hubungan yang sudah kita jalin. Ini adalah tahun keempat. Meskipun selama emp...
Followers
Blogger templates
DiaryNotebook
