Tampilkan postingan dengan label Inspiration. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiration. Tampilkan semua postingan

Youth Generation for Our Best Education (Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2017)

Generasi Muda Indonesia! Kau harus mau dididik, dan mendidik kemudian
Kau harus berpendidikan agar menjadi generasi muda yang cerdas dan berilmu
Teruslah belajar hingga menjadi kebanggaan negara, atau minimal untuk dirimu sediri
Jangan pernah berhenti untuk menjadi seorang pejuang hidup

Selamat Hari Pendidikan Nasional :-)

Perjuangan Tiada Berujung (Hari Buruh Internasional 1 Mei 2017)

Menurut KBBI elektronik, Buruh adalah orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah. Atau dengan kata lain, buruh adalah seorang pekerja (worker).

Mungkin sebagian orang beranggapan bahwa kata buruh berarti seorang pekerja dengan pekerjaan kasar atau pekerjaan rendahan. Namun jika ditinjau dari pengertian buruh sendiri, buruh dapat diartikan secara lebih luas. Semua orang yang bekerja untuk mendapat upah berarti buruh, termasuk juga pegawai negeri maupun pegawai swasta, baik yang berada di posisi top level, middle level, maupun low level.

Bekerja untuk orang lain atau bekerja di bawah tekanan orang lain bukanlah hal yang mudah. Mereka memiliki tanggung jawab terhadap semua tugas yang terkait dengan peran dalam bidang kerja masing-masing. Mereka berusaha menjalankan perintah, mematuhi peraturan dan menerima tekanan kerja. Tak jarang dari mereka yang sudah bekerja dengan baik tapi tidak mendapat apresiasi. Tak jarang dari mereka yang bekerja dengan jam kerja tinggi tapi mendapat gaji kecil. Dan tak jarang pula dari mereka yang memiliki kesetiaan pada instansi tapi berujung pada ketidakadilan, seperti PHK.
Pihak atasan kadang tak berdaya ketika keadaan perusahaan sedang lemah. Tak ada pilihan lain selain melakukan PHK terhadap sebagian karyawan. Masih mending ketika mereka mendapat upah terakhir dari perusahaan. Tapi bagaimana jika mereka tidak mendapat upah terakhir? Melakukan demonstrasi? Mereka yang merupakan karyawan dari level bawah yang tidak mempunyai pihak pembela pastinya akan kalah juga. Mereka pasti juga tak punya daya ketika keadaan membuat mereka lagi-lagi harus menerima.

Bagaimana dengan orang-orang yang bekerja di jajaran pemerintahan? Jajaran orang-orang yang mempunyai kekuasaan dan wewenang, yang katanya bekerja untuk rakyat? Akankah mereka menjadi pihak pembela yang kuat? Nyatanya, lihatlah mereka yang melakukan demonstrasi di depan gedung istana negara Mereka memprotes kebijakan upah minimum kerja. Mereka berharap ada seseorang di dalam gedung istana akan memikirkan nasib para kaum buruh.

Apa yang akan kaum buruh lakukan selanjutnya? Tentu saja mereka akan tetap berjuang, bekerja, dan mencari uaph. Terus begitu seperti roda yang berputar. Kerasnya hidup membuat mereka terus berjuang mencari upah. Banting tulang, peras keringat pun mereka lakukan, tak peduli sampai darah mengalir dan air mata berderai. Intinya mereka berusaha menggebuk kerasnya hidup. Seperti halnya buku A. Fuadi yang berjudul ‘Hidup itu Keras, maka Gebuglah!’. Artinya mereka harus tetap menghadapi segala cobaan hidup. Ya. Karena ini adalah hidup. Mereka harus tetap berjalan mengikuti arus kehidupan. Makanya perjuangan itu tiada ujungnya. Ujung perjuangan adalah kematian, yang mana kehidupan fana telah berhenti.

Selamat hari buruh internasional, guys… Dan kau para Freshgraduate, selamat datang di dunia buruh J


Lost to Find #2 (From ‘Demian’ Novel by Hermann Hesse)

Novel Demian masih karya Hermann Hesse terbit tahun 1919 dan masih kategori novel filosofi, yaitu tentang cerita masa muda Emil Sinclair dalam pencarian jati diri serta perkembangan psikologinya.

Dalam novel Demian, Emil Sinclair kecil adalah seorang murid laki-laki yang berasal dari keluarga baik-baik, dan penuh kehangatan. Namun dia sendiri merasa berbeda dengan keluarganya, dunia yang penuh dengan cahaya. Ia merasa seharsusnya berada di dunia yang gelap dan penuh hal-hal buruk.

Sinclair kecil memiliki hasrat ingin diterima oleh pergaulan. Saat pertengahan liburan ia mulai bermain dengan Franz Kromer, anak laki-laki yang mempunyai perangai buruk. Sinclair memulai pertemanan dengan membuat cerita bohong, yang ia yakini Kromer akan menyukai cerita itu dan menganggap dirinya gagah. Sayangnya Kromer dan teman-temannya mulai memanfaatkan cerita bohong Sinclair. Kromer pun menakuti Sinclair dengan ancaman, dan Kromer sering menggoda dengan membuat siulan di sekitar Sinclair. Sinlclair ketakutan hingga pura-pura sakit agar tidak pergi sekolah dan bertemu Kromer. Sinclair juga memberi upeti agar Kromer tidak melaporkan pada polisi atau keluarganya.

Masalah Sinclair dan Kromer mereda ketika ia bertemu dengan murid baru bernama Max Demian. Seorang murid yang berbeda dari anak-anak pada umumnya. Dia memiliki perawakan yang dewasa dan aura kejantanan. Akhirnya Mereka berdua berteman. Sinclair pun menjadikan Demian sebagai panutan karena Demian sering memberi mimbingan dan petunjuk-petunjuk.

Ketika beranjak dewasa, Sinclair semakin jarang bertemu Demian, setelah selama sekolah Demian bercerita kisah Cain and Abel (Kabil dan Habil), mereka bertemu kembali di gereja dan Demian banyak bicara mengenai The God and The Devil, dan di bar saat Sinclair sedang mabuk karena banyak minum wine. Sinclair kembali ditinggal oleh Demian. Dan Sinclair yang tanpa Demian, ia menjadi pemabuk, kasar, semakin tidak mempunyai aturan karena ia memutuskan untuk tidak tinggak di rrumah, Sinclair yang bertemu Beatrice dan jatuh cinta, Sinclair yang mengalami mimpi adsurb, Sinclair yang melukis burung gagak yang ia sadari sebagai cerminan dari dirinya sendiri, Sincalir yang tanpa sengaja melukis wajah Demian dan sosok perempuan, dan pencarian Sinclair terhadap Abraxas.

Pencarian Sinclair terhadap Abraxas membawanya ke sebuah gereja. Ia bertemu seorang pianis bernama Pistorius, yang  memiliki nasib sama dengan Sinclair. Pistorius itu anak seorang pastur, dan ia memutuskan keluar dari hidup keluarganya dan memilih jalan hidupnya sendiri.  Akhirnya Pistorius memberi tahu apa sebenarnya Abraxas itu dan membawa Sinclair pada sebuah pencerahan.

Setelah lulus SMA, akhirnya Sinclair bertemu Demian dan bertemu Frau Eva, ibu Demian, seseorang yang ada di dalam mimpinya. Sinclair mencintai Frau Eva dengan segenap hatinya. Baik Frau Eva maupun Demian meyakinkan Sinclair untuk percaya pada mimpinya, dan mempunyai pendirian. Setelah beberapa saat, Demian harus meninggalkan Sinclair lagi, dengan memberikan ciuman dari Frau Eva yang dikirim melalui Demian. Ketika Sinclair bangun keesokan paginya dan bercermin, yang ia lihat adalah gambar dirinya yang sudah menemukan dunia terangnya sendiri.

Intinya, rasa akan kehilangan itu membuat Demian menjadi diri sendiri dan percaya akan mimpinya.
I recommend this book for you guys. Yang aku tulis ini tidak ada apa-apanya, aku hanya mencoba menyalurkan betapa aku sangat menyukai karya Hermann Hesse. 

Herman Hesse sendiri merupakan seorang penyair, novelis, dan pelukis berkebangsaan Jerman-Swiss. Pada tahun 1946 Hesse menerima Nobel Kasusastraan. Karya terbaik Hesse yang terkenal lainnya yaitu Stephen Wolf, Siddhartha, dan The Glass Bead Game yang mengeksplorasi kisah pencarian spiritual individu.

Novel Demian ini termasuk novel berat karena mengandung gagasan cerita yang dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran filosofi, tentang pemberontakan dalam diri seseorang yang dipengaruhi oleh pemikirannya sendiri. Apalagi Hesse memang seseorang yang penuh dengan spiritual, dibuktikan ketika ibunya adalah seorang misionaris. Novel ini akan membuat  pembacanya juga akan berpikir lebih dalam untuk memahami gagasan cerita. Apalagi saya sendiri membaca versi bahasa Inggris yang membuat saya benar-benar menguras otak. Pembawaan bahasanya juga sangat berbobot dan mengalir begitu saja. Saya rasa ini seperti mantra sihir, karena kata-katanya begitu memikat saya sebagai pembaca. Jadi seperti itulah novel Demian.

I don’t care with any theory to breakdown what the story mean kayak blog sebelah. I just enjoy the story. And I always like the way Sinclair amazed to Demian.

I kept glancing toward Demian whose face held a peculiar fascination for me…, I couldn't say that he made a favorable impression on me…, his manner too provocatively confident, and his eyes gave him an adult expression…, etc.”


“I saw Demian's face and I not only noticed that it was not a boy's face but a man's; I also felt or saw that it was not entirely the face of a man either, but had something feminine about it, too. Yet the face struck me at that moment as neither masculine nor childlike, neither old nor young, but somehow a thousand years old, somehow timeless, bearing the scars of an entirely different history than we knew; animals could look like that, or trees, or planets--none of this did I know consciously, I did not feel precisely what I say about it now as an adult, only something of the kind. Perhaps he was handsome, perhaps I liked him, perhaps I also found him repulsive, I could not be sure of that either. All I saw was that he was different from us, he was like an animal or like a spirit or like a picture, he was different, unimaginably different from the rest of us…, etc.”

Mencari Jati Diri (From Novel ‘Petir’ Karya Dee Lestari)

First of all, I’d like to introduce you about novel that I already mention on tittle of this article.
Novel Petir karya Dewi Dee Lestari, yaitu novel ketiga dari seri novel Supernova, setelah seri pertama (KPBJ) dan seri kedua (Akar). Novel Petir menceritakan kronologi seseorang dalam menemukan jati diri, yang intinya menemukan dan mencari jati diri itu:

Come from Emptiness
Ia adalah seseorang yang jiwanya terasa hampa, polos (belum mengetahui banyak hal) dan belum mengalami segala dimensi kehidupan. Ia bisa berasal dari hanya mengenal hal yang baik-baik saja, atau hanya mengenal hal yang buruk-buruk saja. Atau tidak mengenal dua-duanya, ia sekadar menyaksikan dan tidak mengalami sendiri. Hingga suatu saat ia penasaran dengan hal lain yang belum pernah ia alami, atau ia terpaksa menjalani hal lain yang belum pernah ia sentuh.

Dalam novel Petir, Elektra kecil diceritakan sebagai si bungsu pemalas yang jarang punya aksi. Bagi Elektra, hidup adalah duduk di bangku bioskop yang gelap menontoni kakaknya yang hiperaktif. Elektra pun harus memasuki era baru yang serba asing sejak ayahnya meninggal. Bahkan dunia tak lagi aman bagi Elektra yang tidak tahu apa-apa, ia dituntut mandiri (Dee, 2003).

Enjoying Proccess
Dalam Novel Petir, tentu saja Elektra yang tidak tahu apa-apa tentang hidup dan dipaksa untuk mandiri. Elektra hidup, tapi jiwanya mati karena tidak memiliki misi. Dan yang paling mengena untukku adalah, Elektra belum bekerja (menganggur) selama lima tahun sejak lulus menjadi sarjana ekonomi. She just enjoy proccess and just flow on it. 

Menikmati proses bukan berarti tidak melakukan aktivitas, Elektra needs activity to kill the time. Sejak ayahnya meninggal, Elektra berusaha mempertahankan bangunan Toko Elektronik Kuno milik ayahnya yang tidak mengalami perkembangan. Padahal banyak pebisnis yang sering mengubungi Elektra untuk menyewa bangunan atau mengajaknya menjadi partner bisnis. Ia juga tidak bermaksud melanjutkan usaha pertokoan itu. Awalnya Elektra hanya membiarkan begitu saja dan sedikit mengecek administrasi toko. Ia hanya sedikit merenovasi dan membersihkan isi bangunan yang juga menjadi tempat tinggalnya. Hingga tanpa ia bayangkan ia menjadi korban keisengan surat panggilan kerja yang mengatasnamakan Sekolah Tinggi Ilmu Gaib Nasional (lol :-D), melakukan meditasi bersama pemilik toko obat, dan menjadi Elektra yang gila internet hingga menjadi pelanggan warnet kemudian jatuh sakit, dan yang akhirnya Elektra membuka warnet sendiri di rumahnya.

Finally She Knows
Semua proses yang telah dilalui, Elektra menjadi semakin berpengalaman dan memiliki relasi dengan orang lain. Dan dari pengalaman itu Elektra menjadi tahu cara menyikapi suatu permasalahan dan tahu apa yang ia inginkan.

Setelah Ekektra menjalani bisnis warnet bersama rekan-rekannya, ia baru menyadari terdapat potensi dalam dirinya yang dapat mengalirkan energi listrik. Sejak saat itu ia berinisiatif membuka klinik pengobatan alternatif. Itulah jati diri Elektra, menjadi perantara sebagai penyembuh.

Kalau dalam istilah bahasa inggris Life Must Go On itu benar. Kehidupan selalu berjalan jadi kita harus menikmati setiap proses yang ada, seperti yang Dee bilang juga, bahwa: “Ternyata hidup tidak mmebiarkan satu orang pun lolos untuk cuma jad penonton. Semua harus mencicipi ombak.”

Dailylife Senior Level Student

Sebagai senior level student yang udah punya tiga adik angkatan, aku sadar kalo aku udah tua. Semester yang bakal jadi the last semester in my undergraduate level ini bakal sibuk sama yang namanya skripsian. Itu sih yang ada di bayangan aku. Tapi nyatanya minggu ini masih gabut aja, setelah sekitar dua minggu yang lalu ngajuin proposal n dapet dosbing. Terus iseng2 cari data sekaligus cari muka ke calon lokasi penelitian. 'cuz memang sudah sepakat sama dosen juga kalo bimbingan mulai minggu depan.

Move on dari kkn? It should be. Tapi nyatanya ada kebiasaan kkn yang kebawa sampe sekarang. Kadang juga dejavu sama kehidupan di posko kkn, terngiang sama berisiknya suara temen2 kkn. Mentang2 juga udah nggak ada kelas, semester ini pengennya main terus. Kayaknya ini juga salah satu efek kkn yang terlalu aku nikmati. Karena nggak ada yang ngajak main jadinya all day all night mainnya di media sosial. Cari jurnal n terjemahin artikel disambi sama streamingan, download lagu, n selancar di medsos. Waktu pulkam juga failed semua planning mainnya, akibat cuaca yang tidak bersahabat. Hujan setiap hari, alhasil cuma bisa ngopi2 di kafe sama menikmati saat2 terjebak hujan.

Pernah ngerasa bosan sama penampilan yang itu2 aja dari semester pertama sampai semester tua ini? Well, ya. Melihat junior level kadang ada yang penampilannya lebih tua dari aku. Kadang ngomong sendiri dalam hati, 'Dulu waktu semester ... aku nggak make up deh, aku nggak glamor gitu deh'. Nah dari situ tiba2 ada pemikiran, 'Mosok aku mau kelihatan sama kek adek tingkat yang pada dandan'. Nah sekarang aku mulai coba2 touch ini itu di wajah. Yang dari semester muda hanya apply pelembab, bedak, n lips ice. Nah semakin ke sini mulai apply lipstick n eye brow. Yang awalnya cuma tipis2, eh semakin ke sini makin berani malah. Tapi nggak sehari2 juga sih pake gituan. Cuma kalo lagi mood n ada acara tertentu aja (termasuk acara main n kencan).

Efek tuh efek. Udah semester tua yang pengennya juga kelihatan tua. Maksudnya biar nggak dikira mahasiswa angkatan bawah. Ato parahnya lagi malah dikira masih SMA. Kalo diperhatikan, after pulang dari kkn sebagian temen2 juga pada mulai dandan. Jadi nggak ngerasa aneh lah kalo aku juga lumayan tampil agak beda dari semester sebelumnya.


LPK Almost Done

Semarang (12/2) - Pada hari ke-25, mahasiswa Tim 1 KKN Undip 2016 Kelurahan Bandungan telah berhasil mengerjakan Laporan Pelaksanaan Kegiatan (LPK). LPK tersebut telah diperiksa oleh dosen pembimbing lapangan yang hadir langsung ke posko KKN yang berlokasi di Lingkungan Pendem (RW 03). Selain itu, dosen sekaligus memeriksa dan memberi tanda tangan pada lembar K1 dan K2 yang berisi catatan kegiatan lapangan untuk program multidisiplin dan monodisiplin.

Setelah dilakukan pemeriksaan, ada beberapa bagian yang harus diadakan revisi. Dan hasil revisi dikirim via email pada tanggal 16 Februari 2016 untuk kemudian diperiksa kembali oleh dosen. Sementara hasil revisi akhir akan diperiksa dan diambil dalam bentuk hardfile oleh dosen pada tanggal 20 Februari 2016. Sedangkan penyerahan ke LPPM paling lambat setelah upacara penarikan KKN di universitas.

Salam 'Reportase Ala-Ala', guna mengisi kegabutan di posko, pasca 2 malam lembur bikin LPK...




AUTODIDAK JUGA OKE




Menjadi penulis adalah salah satu impian yang sekarang sudah populer di banyak orang. Termasuk saya. Alasan saya menulis (khususnya fiksi) karena saya ingin mempunyai sesuatu yang bisa dibanggakan di kemudian hari kelak. Saya juga ingin menghibur orang melalui tulisan saya, karena saya bukan tipe orang yang pandai bicara. Makanya saya ungkapkan melalui tulisan. Saya juga merasa memiliki potensi menjadi penulis karena otak saya suka berimajinasi mengenai sebuah cerita. Jadi sayang kalau tidak di-eksplisit-kan. Ide kan bisa menjadi sesuatu yang sangat mahal.
 
Kalau menurut Albertheine Endah si gini, “sebab dengan menulis, saya nggak akan kehabisan dunia. Selalu saya temukan ruang-ruang baru dengan sensasi mendebarkan. Menulis adalah cara yang indah untuk memperbarui hatimu dan memperluas cakrawala.”

Ada lagi, kalau menurut Mbak Norma Keisya Avicenna di sebuah seminar kepenulisan, “saya tidak ingin dikenang orang hanya dengan beberapa kata, yaitu nama, tempat dan tanggal lahir, serta alamat yang nantinya tertulis di batu nisan. Melainkan ingin dikenang dengan beribu-ribu kata yang ia tulis melalui sebuah buku.”

Mereka semua mempunyai motivasi yang berbeda untuk menulis. Dan yang terpenting adalah action. Karena menulis adalah proses dan keterampilan. Jadi untuk menjadi seorang penulis, maka harus menulis. Terus dari mana dan dengan siapa kita bisa belajar menulis?

Sebagaimana yang sudah saya alami, saya belajar sendiri atau autodidak. Kok bisa? (Bisa dong. Kan yang bisa menulis bukan hanya anak sastra). 

Saya mulai dengan menulis hal-hal kecil yang sepertinya tidak mutu, tapi tetap saya tulis. Karena itu juga akan melatih kita cara merangkai kata dan kalimat. Berlatih menuangkan gagasan dan ide.

Minat, kegemaran, dan kebiasaan membaca juga nyumbang kita buat belajar menulis. Karena secara tidak langsung otak kita akan terbiasa dengan tulisan-tulisan. Jadi menulis pun tidak menjadi hal yang terlalu sulit.
Belajar dari pengalaman. Seiring dengan kegiatan menulis, kita akan belajar bagaimana cara membuat kalimat yang baik dan benar, sesuai dengan  EYD. Karena setelah menulis, pastinya kita membaca kembali tulisan kita. Dan kalo ada yang ganjil langsung kita revisi. Nah, dari kesalahan itu kita bisa belajar.

Belajar dari buku. Yap, karena buku adalah salah satu guru yang baik. Ketika saya menulis, saya mempelajari buku-buku tentang kepenulisan yang dapat menunjang kegiatan menulis saya. Kemudian saya praktikkan pada tulisan saya. Salah satu buku yang sangat membantu saya menulis yaitu bukunya Winna Effendi yang berjudul “Draft 1: Taktik Menulis Fiksi Pertamamu”, dan bukunya Albertheine Endah yang berjudul “Menulis Fiksi itu Seksi”. Selain itu, saya juga belajar dari internet mengenai tips dan trik menulis fiksi.






BTW, siang tadi saya juga habis mengikuti seminar kepenenulisan. Yang saya harapkan dari seminar itu sih mengenai trik-trik dahsyat dalam menulis. Tapi toh materi yang disampaikan pembicara sudah saya lalui, karena saya juga sedang konsen menulis. Jadi yang saya dapatkan dari mereka adalah motivasi dan pengalaman dalam menulis, karena buku mereka sudah best seller.

Sebenarnya berguru pada seseorang nggak kalah penting, jika kita memang ingin benar-benar konsen dan serius menulis, serta ingin menjadi professional. Saya juga ingin memiliki guru. Hehe…

Pada intinya sih menulis itu berasal dari kemauan diri sendiri, bukan karena paksaan. Jadi kita sendiri yang menggerakan mau di bawa ke mana ide, gagasan, dan imajinasi yang ada di otak kita. Oleh karena itu perlu kita mulai dari hal-hal yang kecil dulu dan mulai dari diri sendiri. So, keep writing…





Wanita yang Dituntut menjadi Dewasa



Hello, Girls… Kamu wanita, kan? Kehidupan seorang wanita ketika beranjak dewasa akan lebih rumit ketimbang saat masih remaja, apalagi anak-anak. Memang pada dasarnya wanita dari dulu suka ribet dalam segala hal sih. Mereka sibuk dengan diri sendiri, dengan perasaan dan sikapnya dalam menghadapi kehidupan. Sampai mereka lupa kalau dalam hatinya membutuhkan kebahagiaan yang sederhana.
Setiap wanita memang menginginkan hal terbaik untuk hidupnya. Jadi ketika mereka beranjak dewasa, banyak tuntutan ini itu yang harus dipenuhinya. Keribetan macam apa sih?



Penampilan. Penampilan adalah segalanya bagi seorang wanita yang beranjak dewasa. Mereka tidak ingin disamakan dengan dirinya ketika masih remaja. Alhasil, mereka sibuk belanja ke sana kemari untuk memenuhi hasratnya berpenampilan dewasa. Pakaian, sepatu, tas, dan aksesoris harus terlihat serasi dan extraordinary perfect. Tak jarang mereka malah terkesan berlebihan sehingga pria menjadi minder atau tidak nyaman dengan penampilannya. Seorang wanita tidak akan merasa cukup hanya dengan sepuluh baju di lemarinya. Mereka berdedikasi setiap acara harus memiliki baju yang berbeda, model yang berbeda, dan merk yang berbeda. Tapi kadang mereka juga masih bingung harus memakai baju mana dan tas mana ketika akan pergi. Jadi jangan heran jika setengah jam hanya digunakan untuk memilih baju yang akan dipakai.
Padahal saat masih anak-anak, mereka akan menerima baju apa pun yang dipakaikan oleh orang tuanya. Mereka bahagia dengan baju yang dibelikan orang tua meskipun tidak mahal dan bermerk, yang penting lucu dan nyaman dipakai.

Make up. Naluri wanita ingin selalu tampil cantik di setiap kesempatan (kok kayak iklan kosmetik :-D). Memang benar adanya. Ketika beranjak dewasa, mereka mulai mencoba menggunakan kosmetik ini dan itu untuk mempercantik wajah, atau lebih tepatnya memoles wajah. Mereka membutuhkan topeng bernama cantik agar membuat dirinya terlihat PD. Berbagai macam cream dan bedak mereka poleskan ke wajah. Segala macam pensil (selain pensil tulis) mereka apply untuk mempertegas alis, mata, dan bibir. Pewarna bibir juga mereka anggap sebagai hal yang tak boleh terlupakan. Parahnya mereka tidak hanya menggunakan satu lapis, melainkan sampai tiga lapis. Dan mereka tidak puas hanya memiliki satu macam warna. Mereka butuh berbagai macam warna pink dan merah untuk dipakai pada kesempatan yang berbeda.
Padahal saat masih anak-anak dan remaja, mereka sangat natural tanpa embel-embel kosmetik manapun. Mereka tetap PD dengan bentuk alisnya yang alami. Dengan warna bibirnya yang apa adanya. Mereka tidak takut menjadi coklat atau hitam ketika bemain di bawah sinar matahari jadi tidak perlu memakai SPF. Tapi sekarang? Ke mana pun mereka pergi harus memakai topeng.

Asmara. Menginjak usia dewasa, biasanya wanita mulai diributkan soal asmara. Mereka akan menjadi semakin mengerikan. Mereka akan khawatir jika saat itu belum mempunyai calon pasangan hidup. Apalagi teman-teman mereka sudah mulai tunangan atau menikah. Mereka akan semakin termotivasi dengan hal itu. Alhasil mereka caper ke sana kemari dengan lawan jenis, sok-sok menghubungi teman lama dengan harapan bisa berubah menjadi cinta. Atau minta teman untuk mencarikan pacar (comblang). Atau malah sekalian minta dijodohkan karena frustasi. Dan untuk mereka yang sudah mempunyai calon gandengan. Mereka akan cenderung mempertahankan atau masih mencoba mencari yang lain. Alhasil, sikap mereka berubah menjadi mengerikan. Menjadi mudah cemburu, suka menuntut dan over protective karena takut pasangannya dibawa wanita lain. Mencoba selingkuh dengan harapan selingkuhannya itu lebih baik, padahal belum tentu juga. Sehingga terkadang dapat memicu terjadi perang dunia ketiga.
Padahal saat anak-anak dan remaja, yang mereka tahu adalah cinta monyet (puppy love). Pacaran yang tidak mempunyai ekspektasi ke depan, sehingga mengalir apa adanya. Mereka juga bersahabat demi persahabatan tanpa mengubah ekspektasi apa pun.

Cita-cita dan ambisi. Semua wanita pasti menginginkan dirinya untuk menjadi wanita yang sukses. Cita-cita dan ambisi menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Mereka ingin bersungguh-sungguh mewujudkan semua mimpinya. Hidupnya menjadi penuh dengan dedikasi. Semua usaha dan upaya akan dilakukan. Mereka menjadi super sibuk dan rela jauh dari keluarga. Sekolah, kursus, pelatihan, dan kerja. Secara bertahap mereka lalui. Di langkah pertama yang mereka cari adalah kerja demi mendapatkan uang, jadi bisa hidup mandiridan memenuhi semua kebutuhan yang selalu bertambah. That’s good lah. Tapi kalo menjadi over ambisius, mereka hanya akan disibukkan dengan urusan dunia tanpa bisa melihat sebuah makna dan keutuhan yang sebenarnya.
Padahal saat masih anak-anak dan remaja, mereka cukup menyebutkan cita-citanya yang setinggi langit tanpa harus memiliki ambisi. That’s all. Dan mereka bangga dengan  cita-citanya yang belum menjadi kenyataan.

Persahabatan. Sebagian wanita menganggap persahabatan adalah hal yang penting, tapi juga ada yang mengabaikan arti persahabatan. Menurut wanita dewasa, sahabat adalah orang yang mempunyai manfaat dan memiliki pengaruh positif dalam hidupnya. Mereka akan bersahabat sangat akrab terhadap orang yang mempunyai kepentingan sama dan bermanfaat untuk dirinya. Mereka akan terus mempererat persahabatan selama orang itu masih berdampak dalam hidupnya. Namun jika orang itu sudah tidak mempunyai pengaruh, persahabatan akan merenggang, tahu kabar sahabat saja sudah menjadi hal yang oke untuk tetap dianggap sebagai sahabat.
Padahal waktu masih anak-anak dan remaja, mereka benar-benar menggap seseorang sebagai sahabat tanpa harus memiliki manfaat apa pun. Mereka akan saling merangkul dan yang penting bisa bermain bersama.

Keluarga. Bagi wanita dewasa, keluarga bukan satu-satunya pelindung. Mereka mulai percaya diri untuk hidup mandiri tanpa harus dengan pantauan orang tua. Mereka yang sudah sibuk dengan urusan pribadi kadang lupa dengan kabar keluarga, karena mereka lebih mementingkan keluarga dan rekan. Terkadang mereka juga tidak ingin terlalu menurut dengan aturan keluarga yang menurutnya tidak masuk akal. Mereka tidak akan membiarkan keluarga menghalangi dirinya untuk meraih impian karena ambisi tadi. Alhasil mereka menjadi lupa kalau do’a dan restu orang tua adalah segalanya.
Padahal saat masih anak-anak dan remaja, semua hidup mereka bergantung pada orang tua. Bahkan mereka meminta orang tua untuk mengantar jemput sekolah karena belum berani ke mana-mana sendiri. Mereka akan merasa aman jika dekat dengan orang tua.

That’s all tentang kehidupan wanita yang sedang beranjak dewasa. Setiap orang pasti berubah seiring dengan pengalaman hidupnya. Di tengah-tengah kehidupannya yang serius dan kaku ada kalanya mereka juga perlu mengingat masa anak-anak yang penuh dengan keceriaan dan kepolosan. Karena di sana ada kebahagiaan yang sederhana dan tidak perlu pura-pura.

NOVEMBER RAIN





During dry season, it seems like no a day without feeling hot and hot. Begin April to this month, sky under Semarang City always feel like burn upper leather. It doesn’t mean that it used to be not hot. But dry season this time is really hot extraordinary.

On August, I  spend my time to live in kaligawe to do my job training in Unissula. I still be understanding of a situation about the weather that more hot than Tembalang. Kaligawe is a suburban area of Semarang, closer to the sea, toll-road, factory and industrial area. Quantity smoke of vehicle and factory contribute pollution and increase temperature. Different with Tembalang that locate in upstairs of Semarang. Moreover in Undip, green campus that still grow many trees.

On September I come back to Tembalang with hopeful that I can feel fresh weather and temperature not too hot. First and second week temperature still feel good. But the next week start to feel more hot. The grasses that still green before, change running dry. And the ground start seen infertile. So campus of Undip land become dry. Fortunately, not burning like happen in Kalimantan and Sulawesi that cause smoky sky. Moreover, the well in society village is begin running dry. So it happen in my boarding house, until the owner of the house appeal to be wise when spend limited water.

Back to temperature. Between morning, noon and night no different. Always feel hot and hot, with temperatures between 32 to 36 degrees Celsius. From waking up to going to bed again always in with the body feels sticky due to frequent sweating. Fortunately, the course room facility wit air-conditioner that can reduce heartburn. Can not imagine if college is not in the air-conditioned space, might be during college simply preoccupied with the fans. Outside activities college also still pursued to air-conditioned room, for example the library. In the dry season that feel hot like this, the library is one suitable place to ngadem” because usually equipped with air conditioning with temperatures cold enough.

Indeed, the day felt longer than the night. Five in the morning had started brightly as six, and five in the afternoon also seemed still like three o’clock. While eight o'clock the sun began to rise and was hot. Sometimes it feels lazy to get out collage because the heat of the sun. Not even dare go out without the use of protective skin, aka afraid to be really ten-skin. So if you want to leave the campus to wear sunblock or sun screen at least an SPF 17 to 30.

Almighty of Allah. First week in November bring many bless. Finally the rain comes. But it is not the rain actually, just mizzle or light rain. It happen about five minutes only. And not give many effect to the ground and weather. So I still feel hot like I used to be. But, yesterday and today is so something for me. Towards Maghrib time, finally rain fall heavily enough. The rain fall around three hours. Not bad. I think it is enough to make the ground become wet. And plant feel fresh. And so I am feel fresh, not feel hot enough.
Oh, give thanks to Allah. I hope this November is closing of dry season. And beginning for rainy monsoon. I love rain so much when it fall in the night. I love the smell of rain. I love the sounds of rain that fall in tiled-roof and tiled pavement. Because I don’t need to listen other sound that I won’t. And I can thinking clearly on my own, take concentration, and feeling comfortable. And I hope my earth become more fresh and cold. Thanks God for this November rain.

(Note: this is the first time I post in English. I still study English. I aware that my English is BERANTAKAN LUAR BIASA. So, if you read this post, i hope you understand and want to help me study English)

Cari Blog Ini