Pejuang (Pemburu) Beasiswa

Sangat aku sadari bahwa kuliah itu membutuhkan biaya yang sangat banyak. Mulai dari biaya kuliah per semester, biaya kost, dan biaya hidup harian. Semua itu harus mengorbankan harta orang tua, menguras tabungan, menguras kantong, menguras tenaga, pikiran, dan juga keringat. Pokoknya semua hal yang bisa dikuras. Habis sudah. Tapi aku tidak bermaksud menguras harta orang tua. Aku hanya butuh, dan jika boleh aku katakan, aku hanya pinjam sementara. Suatu saat jika aku sudah menjadi orang sukses, aku sangat berniat mengembalikan semua itu, tapi entah membayarnya dengan apa.

Dulu waktu pertama mau daftar kuliah, keluarga sangat mendukung dan sanggup untuk menanggung biaya yang saat itu harus segera dibayarkan. Pembayaran pertama dengan jumlah yang menurutku  sangat banyak masih sanggup dibayarkan. Sampai sekarang semester enam pun masih sanggup. Meskipun mungkin terpaksa disanggupin karena sudah terlanjur nyebur jadi basah sekalian. Berdasarkan arsip pribadiku, kalo dihitung jumlah total biaya kuliah dan biaya hidupku selama kuliah sampai saat ini udah mencapai puluhan juta Rupiah. Kalo dilihat nominalnya, uang segitu banyak banget, udah bisa buat beli motor vario dua buah, sama buat beli tanah. Subhanallah, ternyata hutangku sama orang tua banyak sekali. Kasihan ya orang tua kayak jadi budak buat kuliahin anaknya (That's not what I mean) Tapi yang sudah ya sudah deh. Hilang, tidak ada wujudnya. Yang tersisa tinggal kertas kwitansinya saja. Tapi semoga aku atau orang tuaku bisa memanennya di masa depan. Aamiin Ya Allah.

Mungkin aku menyesal. Mengapa tidak dari awal mencoba mendaftar beasiswa yang dari pemerintah? Kan enak bisa kuliah gratis dan dapat uang bulanan? Mungkin ini yang terus menghantuiku sampai saat ini. Seandainya waktu bisa diputar kembali pasti keadaannya tidak akan seperti ini. Zonkk!!! Sudah tidak mungkin. Sekarang hadapi, jalani, dan nikmati saja kenyataan yang ada. Kalo bisa ya cari solusi. Dan solusinya adalah beasiswa, dengan harapan bisa meringankan beban orang tua. Dari semester awal aku sudah bertekad untuk menjadi mahasiswa yang melek informasi beasiswa. 

Semester satu aku mencoba mendaftar beasiswa susulan. Dari kelasku ada tiga anak yang mendaftar. ketika pengumuman tiba, dengan penuh kesedihan tidak ada namaku di daftar pengumuman beasiswa susulan itu, sedangkan dua orang temanku diterima. Aku hanya bisa bertanya pada diri sendiri, adakah yang salah dengan berkas-berkasku? Tapi ya sudahlah, mungkin itu bukan rejekiku. Beberapa bulan kemudian, teman sekelasku mengabariku kalo aku diterima di Beasiswa Bank BNI. Aku masih tidak percaya sehingga temanku menyuruhku untuk melihat di website. Ternyata benar. Tapi kok bisa? Kapan aku mendaftar beasiswa Bank BNI? Setelah mengndengar informasi dari mulut ke mulut, ternyata mahasiswa yang tidak diterima di beasiswa susulan langsung dialihkan ke pengganti Beasiswa Bank BNI. Alhamdulillah, meskipun hanya cair satu tahun sekali dan berlaku hanya untuk satu tahun. 

Semester dua aku memberanikan diri untuk mendaftra Beasiswa Yayasan Karya Salemba Empat (KSE), setidaknya aku sudah memenuhi ketentuan, minimal semester dua. Persyaratan berkasnya memang banyak, ditambah lagi harus membuat essay sebanyak tiga halaman. Semua harus rangkap dua, dimasukkan ke dalam stopmap dan amplop cokelat. Sampai-sampai temanku bilang, "kayak orang mau ngelamar kerja aja." Waktu itu aku sangat ambisius untuk mendapatkan beasiswa, aku sangat PD, and positive thinking overly. Semua pengumpulan berkas sampai pengumpulan pun ku lakukan seorang diri, tanpa meminta bantuan teman mana pun, sampai-sampai aku nyasar cari alamat sekretariatnya. Tapi finally ketemu juga. Seleksi ada dua tahap. Tahap pertama seleksi berkas, dan aku sangat bahagia ketika lolos seleksi tahap pertama. Ini membuatku semakin positive thinking. Tahap kedua yaitu seleksi wawancara, dengan segenap perasaan dan pikiran aku berusaha semampuku, meskipun mungkin tidak maksimal saat wawancara. Setelah lama menunggu, pengumuman hasil wawancara pun keluar juga (di awal semester tiga). Aku sangat deg-degan ketika mencari namaku sendiri dalam dokumen yang sudah ku-download. Setelah beberapa menit menggerakan menyekroll kursor ke atas dan bawah, aku masih tidak melihat namaku di daftar sampai-sampai aku mengulanginya sekali lagi. Dengan harapan mungkin ada yang terlewatkan dari pandanganku, sampai aku lelah. Di sana memang tidak ada namaku. Aku sangat kecewa, sedih, dan tidak tanggung-tanggung untuk menangis. Mungkin aku terlalu berharap. Dan mungkin ini akibat dari positive thinking overly. "Mimpinya terlalu tinggi, dan ketika jatuh langsung kesakitan." Begitulah pepatah mengatakan. Dengan berat hati aku harus menerima semua itu. Mungkin belum rejekiku.

Yang lalu biarlah berlalu, semester tiga masih ada kesempatan untuk memburu beasiswa. Waktu itu banyak sekali beasiswa yang ditawarkan. Aku membaca satu per satu syarat dan ketentuannya. Aku tidak mau mengajukan beasiswa yang persyaratannya rumit. Apalagi harus membuat penelitian. Langsung saja aku skip. Lantas, aku harus mendaftar beasiswa apa? Mungkin beasiswa yang aku daftar kali ini tidak terlalu besar nominalnya, sebanding lah dengan persyaratannya tidak terlalu rumit. Yap, itu dia Beasiswa Undip yang memberikan keringanan SPP selama satu tahun. Pilihan yang tepat. Aku diterima. Meskipun cairnya selalu molor tapi aku harus sabar. Lumayan bisa buat bayar kost beberapa bulan. Dan pencairan terakhir ku gunakan untuk membayar biaya KKL ke Surabaya-Bali.

Lanjut ke semester empat. Sebenarnya aku masih terikat dengan beasiswa sebelumnya. Tapi aku nggak mau hanya menunggu. Ada tawaran bagus. Aku segera memenuhi berkas persyaratan untuk mendaftar pengganti Beasiswa BUMN Peduli Pendidikan. Beres semua. Tinggal dikumpulkan. Ternyata teman sekelasku banyak yang tertarik, ada empat orang. Salah seorang teman lebih dulu mengumpulkan ke bagian kesma Rektorat. Dan dia memberitahu kabar buruk, bahwa ternyata tidak ada kuota pengganti untuk fakultasku. Katanya bag kesma fakultas tidak menyerahkan laporan mahasiswa yang sudah keluar dari beasiswa itu. Ketika dikonfirmasi ke fakultas malah tidak memberikan kejelasan. Akhirnya putus sudah semua harapanku.

Pertengahan semester empat. Aku masih tidak kapok berburu beasiswa. Ini adalah kedua kalinya aku mendaftar Beasiswa KSE. Bagaimana lagi, aku hanya bisa mencoba dan berusaha. kali ini aku tidak mau terlalu berharap seperti tahun lalu. Ku pastikan diriku, aku tidak akan menangis dan sedih ketika nanti tidak diterima. Well, aku lolos tahap seleksi, tapi tidak lolos tahap akhir. Lagi-lagi aku harus menghibur hatiku dengan kalimat "Mungkin belum rejekiku." Aku penasaran kenapa bisa begitu, bagaimana prosedur pemilihannya? Ketika ada pameran beasiswa di suatu seminar di FH, aku mendatangi stand beasiswa KSE. Dan aku rasa itu cukup menjawab rasa penasaranku. Memang tim reviewer bisa meloloskan wawancara untuk direkomendasikan ke pihak pusat/ donatur, tapi yang menentukan hasil akhirnya ya dari pusat/ pihak donatur. Kadang ada pihak donatur yang menginginkan mahasiswa tertentu, sedangkan mahasiswa tersebut tidak lolos wawancara. Itu memang kuasa mereka. Kan mereka yang memberi alokasi dana. Kurasa aku mengerti.

Menjelang awal semester selalu ada lebih dari satu tawaran beasiswa. Dan setiap ada tawaran pasti aku membacanya sambil bertanya pada diri sendiri, "Apakah rumit? Apakah memungkinkan? Apakah aku memenuhi kualifikasi?" Kalo lebih banyak jawaban tidaknya ya langsung saja ku eliminasi. Semester lima dimulai. Ada dua pilihan beasiswa yang sama-sama menarik dan persyaratannya tidak terlalu rumit. Akhirnya aku memutuskan untuk memilih Beasiswa Bank Indonesia. Semua berkas sudah kulengkapi dan tertata rapi di dalam map warna biru. Ketika aku datang ke kesma rektorat dan bermaksud input data ke komputer tiba-tiba seorang staf menanyaiku dari fakultas mana. Setelah aku menjawab, Staf tersebut balik bertanya dengan muka judesnya (aku saja males melihatnya) "Emang ada kuotanya?" Staf itu pun memastikannya ke staf lain dan menyuruhku melihatnya di papan pengumuman. Aku sangat kesal dengan diriku sendiri dan pada semua staf itu. Mereka tidak memberikan informasi yang detail di website. Aku merasa capek. Sekali lagi dan mungkin bukan yang terakhir kalinya---aku harus menghibur diri sendiri, "Mungkin belum rejekiku." Ditambah lagi, " Masih ada kesempatan lain."

And then Wellcome semester enam. Aku masih belum putus asa untuk berburu beasiswa. Aku masih mau berjuang dan berusaha. Aku masih sanggup, punya otak, dan juga tenaga. Aku tidak akan berhenti di sini. Entah semester ini aku harus mendaftar beasiswa apa lagi. Mungkin aku akan mendaftar beasiswa KSE untuk ketiga kalinya, atau mungkin beasiswa lain yang lebih memungkinkan. Yang jelas aku sudah punya list dan kalender beasiswanya. Selamat berjuang...

That's all my sharing
Salam mahasiswa pejuang beasiswa... ^_^

Vantage Ground (3)



SIERRA TERBANGUN ketika kereta kuda yang ditumpangi melewati jalan berlubang sehingga menimbulkan beberapa kali guncangan. Matanya masih sayu dan terasa berat untuk membuka. Tiupan angin dari luar jendela kereta menerpa wajah anggun Sierra dan mengibaskan rambut panjangnya ke belakang. Kesegaran udara negara Lumosa membangkitkan syaraf di bawah kulit putih Sierra. Ia terbangun. Pemandangan di luar jendela kereta membuatnya melongok ke arah pemandangan itu. Pepohonan saling terbentang di seluruh bukit Negara Lumosa. Angin menggerakkan dedaunan dan membawa aroma wangi yang menenangkan. Sierra terpesona dengan keanggunan tanah kelahirannya.

“Kau sudah sampai di Lumosa, Nona” kata kusir kereta.

Sierra beralih ke jendela yang satunya. Di sana tampak para pedagang menggelar barang dagangannya di toko-toko kecil. Kendaraan kereta kuda dengan geladaknya yang terbuka saling berjejeran menunggu penupang yang datang.

“Tuan, mengapa kau tidak mengantarku sampai gerbang istana?” tanyanya dengan nada kecewa.

“Ini sudah aturannya kendaraan dari negara lain tidak bisa memasuki wilayah istana. Sebaiknya Nona menaiki kereta yang itu” kata sang kusir sambil menunjukkan jarinya ke arah kereta kuda dengan geladaknya yang terbuka.

Sierra menarik napas dengan sangat dalam sebagai tanda kesal. Ia tidak suka menunggang kereta yang ditunjuk kusir itu. Ia berpikir kereta seperti itu tidak dapat menyembunyikan privasinya. 

Kusir kereta membantu Sierra menurunkan kopernya. Dan tak lama setelah itu langsung meninggalkan Sierra. Tiba-tiba seorang kusir mendekatinya untuk menawarkan kendaraannya.

“Nampaknya kau membutuhkan kendaraan, Nona” Tawarnya.

“Ya tentu. Antarkan aku ke istana”

“Boleh ku bawakan kopermu?” kata kusir itu menawarkan bantuan.

“Tidak, terima kasih” jawab Sierra sambil menggelengkan kepala.

Sierra mengikuti sang kusir menuju kereta yang akan ditungganginya. Sebenarnya beban kopernya terlalu berat sehingga ia harus membawanya dengan dua tangan. Tapi itu masih tidak membantu meringankan, justru memperlambat jalannya. Tiba-tiba seseorang mendesaknya dari samping sehingga membuat Sierra berhenti seketika. Tanpa menghiraukan orang yag menyebabkannya terdesak, ia langsung melanjutkan jalannya dan semua terasa lebih ringan. 

Ia tidak membawa kopernya. Tangannya kosong. Kepanikan tampak di raut wajah Sierra. Mencoba berjalan memutar ke tempat dia turun dari kereta sebelumnya. Kopernya memang tidak ada. Dengan penuh tergesa-gesa ia berjalan setengah berlari menuju tempatnya tadi didesak orang yang tak dikenal. Kakinya menuntun berjalan ke jalan utama menuju istana. Tak nampak seseorang membawa koper miliknya. Yang ada hanya orang-orang asing yang tidak ia kenal sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sempurna. Kehilangan semua barangnya di hari pertama kembali ke tanah kelahiran.

“Nona, kau tampak bingung. Masih membutuhkan jasa transportasiku?” Tanya kusir kereta yang tadi telah dipesannya dengan keraguan.

Sierra mengerutkan keningnya sambil mencoba mengatur napasnya agar stabil. Tampak hatinya sangat kesal. 

“Koperku dirampok, dan semua barangku ada di dalamnya. Termasuk uangku” terangnya.

“Sangat malang. Tapi setidaknya kau masih mempunyai harta yang lain”

“Tidak. Semua barangku ada di koper” kata Sierra dengan nada putus asa.

“Apa itu kalung emas?” tanya sang kusir sambil menunjuk kalung yang menempel di leher Sierra.

Sierra menunduk sambil memegangi kalungnya. “Tentu saja.” Sebenanya kalungnya terlalu mahal untuk membayar angkutan kereta kuda. Namun ia memang membutuhkan itu. Akhirnya Sierra melepas kalung emasnya dan memberikan pada sang kusir. “Antarkan aku sampai gerbang istana” perintahnya pada kusir.

Kereta kuda itu melaju menyusuri jalan besar. Sepanjang jalan terlihat pertokoan kecil dan beberapa tempat penginapan. Kota ini terlihat lebih klasik dibandingkan dengan negara tempat ia belajar, Inggris. Jarang ditemukan bangunan tinggi. Kebanyakan bercat coklat bata dan krem. Beberapa tanaman kecil tampak menghiasi halaman dan teras-teras bangunan. Seperti yang Sierra lakukan dulu di tempat tinggalnya dulu. Ia sengaja menanam beberapa tanaman untuk membuat ramuan dan aroma terapi.

Wilayah perkotaan telah berlalu. Kereta segera meluncur menuju jalan utama keoak istana. Di kedua sisinya tak ada satu pun bangunan. Yang ada hanyalah puluhan pohon Oak Quercus dan jenis pohn lainnya. Tentunya itu adalah perbatasan wilayah kota tempat rakyat menetap dengan wilayah istana. Semakin jauh melaju, pepohonan pun semakin jarang dan berganti menjadi padang rumput yang lebih mirip seperti sebuah taman. Sepuluh meter tepat di depan Sierra berdiri kokoh bangunan yang sangat megah dengan gerbang besi yang kuat. Sierra benar-benar telah sampai di gerbang istana.

“Seperti yang kau lihat, Nona. Kau telah sampai di depan istana” kata kusir menghadap ke arah Sierra.

“Tentu.” 

Sierra terpukau dengan apa yang ada di depannya. Tempat ia dilahirkan dulu. Seketika itu Sierra malah teringat dengan surat dari si pengirim yang misterius tentang kematian ayahnya karena mendapat hukuman mati. Sedangkan ibunya menjadi tahanan. Hanya sang ibu yang perlu ia temui, entah bagaimana pun caranya.

Sierra mendekati gerbang istana dan memegang besi gerbang itu dengan kedua tangannya. Rumput hijau yang halus membentang menghiasi taman istana. Kolam air mancur di tengah taman memberikan pemandangan yang menawan.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya seorang penjaga dengan suara berat.

“Tuan penjaga yang terhormat” salam Sierra pada penjaga tersebut sambil setengah membungkukkan badan. “Aku Sierra Gaund putri dari Britanie Graund. Tepatnya aku adalah keponakan Raja Stalasclaus, dan pangeran Kristan adalah sahabat kecilku. Tapi sebenarnya aku hanya ingin bertemu ibuku” jelas Sierra dengan nada antusias.

“Jadi kau anak Russell Bill.”

“Bukan, aku putri Britanie Graund.”

“Bahkan putrinya sendiri tidak mengakui ayahnya, bagaimana Sang Raja” kata si penjaga pada penjaga di sebelahnya dengan nada tertawa.

“Bisakah kalian membuka gerbangnya? Aku harus menemui ibu, aku sudah berjanji.”

“Sayangnya Raja telah menutup gerbang untuk para darah pengkhianat” kata penjaga sambil mengangkat dagunya.

“Darah pengkhianat?”

“Ayahmu mendapat hukuman mati karena telah mengkhianati Raja, sementara ibumu menjadi tahanan. Mungkin sebentar lagi dia akan menyusul suaminya.”

Sierra mengerutkan dahi, dan pegangannya pada besi semakin kuat. Amarah telah menguasai dirinya sehingga menuntun dirinya untuk mendaratkan telapak tangannya di pipi si penjaga. Tamparan keras tepat mengenai si penjaga. “Raja tidak akan melakukan itu pada adik kandungnya sendiri” kata Sierra dengan nada tegas.

Si penjaga nampak tidak terima dengan hal yang telah Sierra lakukan padanya. Penjaga itu memasukkan kedua lengannya melalui celah-celah batang besi dan menarik kerah pakaian Sierra. Dagu Sierra membentur batang besi dengan sangat keras hingga ia meringis kesakitan. Sekarang giliran Sierra atas perlakuan kasar si penjaga. 

“Kau adalah darah pengkhianat, dan tidak akan pernah masuk ke istana” kata penjaga sambil membentak ke wajah Sierra. 

Sierra hanya diam. Tak lama kemudian si penjaga melepaskan cengkeramannya dengan sangat kasar hingga Sierra terpental.

“Pergi dari sini dan jangan datang lagi, darah pengkhianat!” kata terakhir si penjaga sebelum pergi meninggalkan Sierra. Begitu pula dengan Sierra, ia mulai menjauhi gerbang istana dengan penuh amarah dan sakit hati.

Vantage Ground (2)



BRITANIE TERUS menyusuri jalanan bersemak dan memasuki hutan yang rimba. Tak tersirat sedikitpun rasa takut dalam dirinya. Ia hanya fokus pada kehidupan yang lebih baik saat di tidak lagi di istana. Tiba-tiba seekor kuda hitam lain menyusul kecepatan kuda yang ditungganginya. Ia tahu apa yang harus dilakukannya. Begitu tidak ada pohon yang menghalangi di depannya. Penunggang kuda di sampingnya mengulurkan tangan. Britanie meraih tangannya dengan kuat dan melemparkan tubuhnya ke kuda hitam di sampingnya dan membiarkan kuda putih milik istana pergi ke arah lain. Kini kuda itu ditunggangi oleh dua orang. 

Kuda itu terus berlari tanpa berhenti sedikit pun, seakan-akan tidak ada halangan di depannya. Semua semak belukar yang dilewatinya langsung roboh dan seolah membuka jalan baru. Penunggang kuda itu terus menarik kudanya dengan kencang sehingga kuda hitam itu berlari semakin kencang. Suara-suara kuda lain saling bertautan dan suara kakinya semakin bergemuruh mengikuti sasaran paling depan. Pastilah itu kuda para prajurit istana. Mereka tak hanya mengejar, melainkan juga menyerang sasaran dengan senjata panah dan senapan.

Britanie ketakutan setengah mati sehingga harus melingkarkan tangannya di bagian perut si pengendara kuda. Suara-suara kuda istana mulai meleburkan kepercayaan Britanie akan adanya kebahagiaan bagi dirinya dan pria yang dicintainya. Sebaliknya malah memunculkan hal-hal yang mengerikan akan terjadi jika mereka tertangkap oleh para prajurit istana.

Sebuah busur mengenai batang pohon oak, dan tertancap dengan sangat mantap. Britanie memutar lehernya ke arah belakang. Ia sadar bahwa para prajurit istana memang memburunya dengan beberapa serangan. Ia tidak berinisiatif untuk menggunakan senjata untuk balik menyerang para prajurit, ia hanya mempercayakan semuanya pada pria yang ada di dekapannya. Britanie mempasrahkan hidup dan matinya untuk bersama pria itu. Dan tidak ingin terpisah lagi.

Kali ini anak panah yang diluncurkan oleh para prajurit mengenai paha kuda hitam Britanie. Kuda itu spontan berhenti sebentar dan merintih kesakitan. Namun si penunggang tetap menariknya agar tetap berlari sesuai kehendaknya. Kini kuda para prajurit semakin dekat dengan kuda Britanie yang sudah tidak mempu berlari kencang. Tak dapat dipaksakan lagi ketika kaki kanan-depan kuda Britanie terkena anak panah. Kudanya sudah lumpuh dan bersimpuh di tanah. Pria yang didekapnya langsung menarik Britanie untuk lari dari kejaran para prajurit. Mereka terus berlari dan memilih untuk berseluncur di jurang yang penuh dengan semak-semak belukar.

Britanie tidak selincah pria yang sedari tadi diikutinya. Rok panjangnya yang tebal tersangkut diantara ranting pohon yang berserakan di tanah. Britanie berhenti sementara untuk melepaskan roknya yang tersangkut. Pria itu langsung menyusul Britanie dan langsung merobek roknya hingga terlepas dari ranting-ranting pohon. Dengan penuh tergesa-gesa ia menuntun Britanie lagi untuk melanjutkan pelariannya dari para prajurit.

Tiba-tiba langkah mereka terhenti. Kengerian menyelimuti hati Britanie saat sebuah benda runcing menyusup ke punggung pria yang dicintainya. Pria itu mulai berlutut dan terkulai lemah. Britanie mencoba menyangganya agar tidak terjatuh. Ia meletakkan kedua tangannya ke pipi pria itu untuk memastikan bahwa pria itu masih bisa melihat dirinya. Matanya berair karena menahan rasa sakitnya. Sesaat kemudian pria itu menjatuhkan kepalanya di pelukan Britanie. Ia hanya pingsan. Udara hangat masih Britanie rasakan keluar dari hidung pria itu. Ia masih hidup. Bahkan Britanie melihat pria itu sedikit membuka matanya saat mereka dipisahkan oleh para prajurit istana.

Angan-angan untuk hidup bahagia bersama pria yang dicintainya telah lenyap. Britanie harus disekap di kamarnya lagi. Sedangkan Russell harus mendekam di sel tahanan kerajaan. Raja Stalasclaus sengaja menunda hukuman mati Russell. Raja ingin memancing pihak Kerajaan Sandria datang ke istana untuk menebus si provokator yang sekarang sedang ditahannya. Namun satu tahun kemudian tak ada musuh maupun pemberontak yang datang ke istana. Raja beranggapan bahwa Russell tidak lagi dibutuhkan oleh Kerajaan Sandria. 

Hukum tetaplah hukum. Semua pengkhianat kerajaan harus dihukum mati karena telah mengancam kedamaian Negara Lumosa. Kedamaian adalh mutlak sebagai negara kerajaan. Begitulah akhir dari kehidupan Russell. Ia dihukum mati. Sekali lagi kepedihan menyelimuti hati Britanie karena ia harus kehilangan pria yang sangat dicintainya. Kini hatinya sangat beku, namun jiwanya dipenuhi dengan rasa marah sekaligus frustasi.

Vantage Ground (1)



BRITANIE GRAUND tidak pernah mendapat restu dari ayahnya untuk menikah dengan seorang lelaki pengrajin besi bernama Russell Bill. Kedatangannya tidak pernah disambut dengan hormat oleh Sang Raja. Bahkan Russell tidak akan pernah diterima di istana. Namun besar cinta Britanie pada Russell tidak meruntuhkan niatnya untuk tetap menikah dengan Russell --- walaupun tidak dengan restu Sang Raja.

Akhirnya Britanie kabur dari istana dan memulai kehidupan barunya bersama Russell di sebuah desa yang terletak di perbukitan Arawa. Namun itu tidak bertahan lama. Enam bulan kemudian ayahnya --- Raja Ernand menyuruh prajurit istana untuk mencari keberadaan putrinya. Tidak bisa terelakkan bahwa Britanie harus kembali ke istana dan menjadi tahanan kerajaan--- belum, melainkan karena Raja jatuh sakit dan menginginkan Britanie berada di istana. Britanie tak dampat menyangkal bahwa saudara laki-lakinya yang akan menggantikan tahta Raja. 

Dua bulan sebelum Raja meninggal, Stalasclaus sudah resmi menggantikan ayahnya. Dan atas perintah mendiang sang raja, Stalasclaus harus menjadikan adiknya sebagai tahanan. Britanie disekap di dalam kamarnya. Bukan kamar. Ia menyebutnya sebagai ruang sel tahanan karena menurutnya perlakuan ini terlalu kasar baginya. Saat itu Britanie harus memendam dua kesedihan sekaligus, kehilangan ayahnya dan terpisah dari pria yang dicintainya. Ia sangat frustasi dan tidak mempunyai semangat hidup.

Kabar mengejutkan datang setelah sembilan bulan kemudian, bahwa ternyata Britanie telah melahirkan seorang bayi cantik. Tidak ada yang mengetahui kehamilannya selama ia menjadi tahanan. Hanya seorang tabib dan dua orang pembantu yang sering membersihkan kamar dan mengantarkan makan yang mengetahuinya. Namun mereka tidak terlalu peduli.

Dengan dilahirkannya seorang bayi Britanie memberanikan diri untuk memohon kepada saudaranya agar ia tidak disekap sepanjang hari. Ia meminta agar diberi sedikit kebebasan untuk menghirup udara segar di sekitar taman istana saat mengasuh anaknya. Dengan penuh rasa haru Raja Stalasclaus mengabulkan permintaan adiknya dengan syarat harus dengan pengawalan ketat. 
Britanie semakin percaya bahwa anaknya akan mempermudah semua rencana yang telah ia siapkan. Beberapa kali Britanie berhasil mengalihkan prajurit saat mengawasinya sehingga ia bisa menyempatkan mengajak anaknya untuk bertemu Russell. Meskipun sebentar namun pertemuan keluarga kecil itu terlihat lebih lengkap. Bahkan si anak sangat menyambut sang ayah dengan wajah ceria, tidak seperti mendiang kakeknya. 
Di sela-sela pertemuan itu Britanie mencoba membicarakan rencana yang telah dibuatnya. Tak perlu menjelaskan terlalu banyak untuk membuat Russell paham. Masing-masing telah mengerti apa yang harus mereka lakukan. Russell harus memprovokasi musuh Kerajaan Lumosa untuk menggulingkan Raja Stalasclaus. Sebenarnya yang Russell inginkan bukan untuk menggulingkan raja, melainkan membawa kabur adiknya. Mereka sangat menginginkan hidup bersama lagi dan jauh dari Kerajaan Lumosa.  
Setelah pembicaraan selesai Britanie segera menggandeng buah hatinya untuk pergi. Tanpa membuat kecurigaan dari pengawal istana, Britanie segera menaikkan anaknya ke kereta kuda. Kusir kereta langsung menarik kudanya agar segera berjalan. Sedangkan di belakang tampak dua pengawal istana yang mengikutinya.
Keesokan harinya kerajaan dikejutkan dengan sekelompok pasukan berkuda. Pasukan itu mengacaukan tempat tinggal penduduk sehingga mereka ketakutan. Target empuk mereka adalah istana, singgasana sang raja. Pasukan itu dipimpin oleh seorang Duke dan beberapa prajurit utama lainnya. Mereka menuntut Raja untuk keluar dan segera melakukan diplomasi. Sebenarnya Raja telah mengetahui maksud kedatangan pasukan perang dari Kerajaan Sandria. Mereka menuntut sebagian kecil wilayah kekuasaan Kerajaan Lumosa. Sengketa ini sudah sepuluh tahun tidak dibahas. Entah apa yang membuat pihak Kerajaan Sandria membahas sengketa lama tersebut.
Britanie dan putrinya telah bersiap untuk pergi dari istana. Ia menyusuri lorong yang menuju pintu gerbang belakang istana. Dua ekor kuda telah menanti. Satu ekor berwarna hitam pekat dan telah ditunggangi seseorang yang mengenakan pakaian baja serta penutup kepala sehingga tak ada yang mengenali penunggang tersebut. Dan satu ekor lagi berwarna putih polos yang pastinya Britanie sendiri yang akan menungganginya. Tanpa menunggu waktu lebih lama Britanie segera menaikkan anak kecil berusia 13 tahun itu ke kuda yang telah ditunggangi oleh entah prajurit atau siapa. Tak ada yang mengenali wajahnya. Britanie hanya meminta putrinya tidak kembali ke istana sebelum bertemu dengannya di suatu tempat. Hanya itu. Prajurit pun langsung menarik kudanya untuk segera berlari.
Tak lama setelah kuda yang dinaiki putrinya berlalu Britanie langsung bergegas ke kudanya. Ia sadar bahwa Pangeran Kristan menyaksikan saudara sepupunya dibawa kabur. Ratu Prisca juga menyaksikan sekilas setelah kuda putrinya telah meluncur. Britanie tidak mau mempedulikan aksinya yang telah diketahui oleh ratu. Ia tahu apa yang akan dilakukan ratu saat mengetahui dirinya kabur dari istana.

Cari Blog Ini